Senin, 03 Januari 2011

Selamatkan Mojoanyar

Truk menderu-deru melewati jalan sempit menuju sebuah jalan yang mengarah ke gedung SMP Negeri 1 Mojoanyar. Hampir tiap hari truk pengangkut pasir lalu lalang di Dusun Pasinan, Jabon, Mojoanyar.  Truk itu bukan membangun gedung SMP, tetapi menguruk tanah sawah yang dijadikan tanah kaplingan.

Sejak sepuluh tahun terakhir berhektar-hektar tanah di Kecamatan Mojoanyar, di Kabupaten Mojokerto beralih fungsi. Tanah yang berupa hamparan sawah subur, dibeli investor untuk dibangun perguruan tinggi, tempat usaha, perumahan, perkantoran, dan tanah kaplingan untuk dijual lagi bagi pendatang baru.

Kecamatan Mojoanyar adalah kecamatan paling buncit di Kabupaten Mojokerto. Kecamatan ini merupakan pemekaran wilayah dari Kecamatan Puri dan Kecamatan Bangsal. Sebagai kawasan baru yang berdekatan dengan Kota Mojokerto, kawasan ini mengalami pertumbuhan yang sangat cepat.

Selain dilengkapi dengan kantor Kepolisian dan kantor Kecamatan, kawasan ini juga memiliki dua lembaga penddikan SMP Negeri dan satu SMK Negeri. Sejumlah kantor pemerintah, seperti Balai Benih Padi, Balai Latihan Kerja, dan kantor PMI juga berdiri di sini.

Kecamatan Mojoanyar mulai menjadi daya tarik pendatang setelah kawasan ini berdiri Universitas Islam Mojopahit (Unim), lalu disusul dengan pendirian STIKES PPNI, STIKES Dian Husada dan kemudian STIKES Mojopahit. Adalah Machmud Zain, mantan Bupati Mojokerto  yang mendirikan Universitas Islam Mojopahit.

Pendirian Universitas Islam Mojopahit inilah , salah satu pemicu percepatan pertumbuhan wilayah Mojoanyar. Setidaknya, tahun 2010, Mojoanyar  dihuni oleh 48.663 penduduk. Setelah berdirinya Unim dan kemudian disusul tiga STIKES tersebut, segera berdiri dua perumahan, salah satunya adalah Perumahan Graha Majaphit.

Sejak itu, tanah persawahan di Dusun Pasinan, Desa Jabon langsung dibeli oleh investor lokal untuk dijadikan tanah kaplingan. Dusun Pasinan paling strategis karena berada di belakang gedung STIKES PPNI, STIKES Dian Husada dan berdekatan dengan kampus Unim. Targa tanah kaplingan pun terus melonjak. Pada tahun 2004 , satu petak tanah kaplingan seluas 115 m2 masih seharga Rp. 15 juta – 20 juta, kini sudah melonjak Rp. 45 – 50 juta per kapling.

Laris manisnya tanah kaplingan ini tak lepas dari potensi bisnis di daerah ini. Seorang   pejabat teras di Mojokerto langsung membeli tiga kapling tanah di Pasinan untuk didirikan usaha kos-kosan. Setahun kemudia, warga Mojokerto yang menjadi pejabat di luar Jawa juga memborong 9 kapling tanah sekaligus untuk bisnis kos-kosan dan untuk didirikan sebuah rumah ukuran besar.

Pejabat, pengusaha, pegawai negeri, polisi, tentara, TKI, hingga wartawan, ramai-ramai  berinvestasi di daerah ini. Daerah yang sepuluh tahun silam sepi, tiba-tiba berubah menjadi hiruk pikuk oleh para pendatang. Di Dusun Pasinan, setidaknya ada sekitar 15-an usaha kos-kosan. Usaha kos-kosan ini juga mengundang sejumlah usaha turunannya, seperti warung makan, warnet hingga loundrey.antara lainnya  karena tergerusnya pranata sosial. Kedatangan mahasiswa dari berbagai penjuru daerah, juga menimbulkan goncangan budaya (shock culture), dan juga pergeseran nilai.

Misalnya, warga kampung mulai terusik dengan perilaku mahasiswa yang berperilaku sangat bebas. Mahasiswa tak sungkan lagi membawa perempuan ke kamarnya. Begitu juga mahasiswi, tak malu lagi untuk menginap di rumah kos atau tempat kontrakan kaum pria. Mereka juga sangat atraktif  dalam berpacaran atau berpakaian seronok di muka umum.

Ironisnya, pertumbuhan penduduk, juga pertumbuhan usaha di Mojoanyar ini tidak diikuti penataan kawasan dan lingkungan yang memadai oleh pemerintah. Misalnya, dusun-dusun di Mojoanyar yang kini berdiri sejumlah perumahan dan usaha kos-kosan ini tidak dilengkapi jaringan fasilitas PDAM maupun Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

Akibatnya, penduduk dan pemilik usaha hanya mengandalkan air untuk MCK (mandi, cuci dan kakus) dengan air tanah. Pemerintah juga belum menyediakan TPS di setiap desa di Mojoanyar. Dampak minimnya fasilitas umum ini membuat warga kesulitan membuang sampahnya. Akibatnya, mereka hanya membuang sampah di tanah-tanah kosong atau sungai.

Dalam jangka panjang, masalah sampah ini akan menjadi bom waktu bagi warga dan lingkungan di Mojoanyar. Hal ini bisa terjadi lahan-lahan yang kini masih kosong itu suatu saat akan didirikan bangunan oleh para pemiliknya.

Tiadanya jaringan air bersih dari PDAM, juga membuat warga semakin mengeksploitasi air bawah. Dalam jangka panjang, eksploitasi air tanah ini juga akan merugikan warga setempat, terutama para petani. Air tanah akan semakin terkuras habis.      

Minggu, 02 Januari 2011

Dua Wilayah, Satu Ibukota

Malam tahun baru 2011 alun-alun Kota Mojokerto dipenuhi orang. Tua muda ingin menghabiskan malam pergantian tahun dengan melihat muncratnya cahaya kembang api.

Seperti di kota-kota lain, sejumlah anak-anak muda memain-mainkan gas motornya. Mereka berputar-putar di jalan protokol, juga melemparkan petasan. Pedagang martabak, jagung rebus,  penjual mainan anak-anak, hingga pemilik usaha karaoke berharap dapat berkah dari keramaian alun-alun ini.

Alun-alun Mojokerto satu-satunya ruang publik di Kota Mojokerto yang paling banyak menjadi tempat untuk mencari hiburan, juga untuk mencari rezeki bagi warga Kota Mojokerto dan Kabupaten Mojokerto.

Alun-alun ini menghilangkan batas-batas demografis dan demografis antara Kota Mojokerto dan Kabupaten Mojokerto. Orang tak begitu peduli apakah alun-alun ini milik Kota Mojoketo ata Kabupaten Mojokerto.

Alun-alun Kota Mojokerto, juga tempat publik lainnya seperti Pasar Tanjung dan Jalan Majapahit - pusat pertokoan di Kota Mojokerto, kian tahun semakin padat dan ramai oleh kegiatan ekonomi bagi warga di dua wilayah daerah itu. Pertokoan di Jalan Majapahit, pemiliknya mayoritas berasal dari Kota Mojokerto, tetapi pembelinya dari lintas wilayah, baik dari Kota, maupun Kabupaten Mojokerto.

Dari segi ekonomi, boleh dibilang Kota Mojokerto diuntungkan dengan keterbatasan luas wilayahnya. Kota Mojokerto saat ini hanya mempunyai dua  kecamatan, yakni Kecamatan Magersari dan Kecamatan Prajurit Kulon. Sebagai wilayah kota, mungkin Kota Mojokerto adalah salah kota di Indonesia yang paling sempit wilayahnya.

Posisi Kota Mojokerto dijepit oleh Kabupaten Mojokerto yang mempunyai wilayah sangat luas (dengan 18 kecamatan). Dari segi ekonomi, Kota Mojokerto diuntungkan dengan keberadaan Kabupaten Mojokerto, karena  banyak warga Kabupaten Mojokerto yang membelanjakan uangnya ke Kota Mojokerto.

Ini bisa dimaklumi karena Kota Mojokerto bisa menyediakan fasilitas umum seperti alun-alun, pasar, pusat pertokoan yang memadai ketimbang fasilitas yang ada di Kabupaten Mojokerto. Lihatlah pusat perbelanjaan seperti pertokoan di Jalan Majapahit, supermarket Sanrio, Carrefour, selalu dipenuhi pembeli.

Sebaliknya, dari segi pengelolaan wilayah, Kota Mojokerto harus menahan beban dengan pertambahan penduduknya. Karena itu tidak mengherankan bila banyak warga Kota Mojokerto yang sebelumnya tinggal di Kota Mojokerto terpaksa membeli rumah di perbatasan Kota Mojokerto-Kabupaten Mojokerto,  seperti di kawasan perumahan baru di Sooko, dan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Wilayah pinggiran Kabupaten Mojokerto yang berdekatan dengan Kota Mojokerto seperti Sooko dan Mojoanyar yang semula berupa persawahan, kini berubah menjadi kawasan perumahan baru. Harga tanah pun juga naik berlipat-lipat karena hukum ekonomi.

Sebaliknya, di sejumlah kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang jauh dari Kota Mojokerto, terutama yang berada di daerah pinggiran seperti Jetis, Kemlagi, Dawar Blandong, Jatirejo, Kutorejo, dan Trowulan seolah menjadi penonton keramaian Kota Mojokerto.

Lebih ironis, ibukota Kabupaten Mojokerto berdiri di tengah-tengah Kota Mojokerto. Pintu pagarnya yang begaya Majapahitan menjulang tinggi  membentengi pendopo Kabupaten. Di sekitar pendopo berdiri sejumlah kantor seperti DPRD dan Kantor Perbekalan Kabupaten Mojokerto.

Tak disadari, posisi ibukota Kabupaten Mojokerto ikut menyuburkan ekonomi dan keramaian Kota Mojokerto. Sementara nun di sana, terutama di kawasan  pinggiran Kabupaten Mojokerto seperti Jetis dan Dawar Blandong sebenarnya lebih membutuhkan untuk disuburkan perekonomiannya, ketimbang Kota Mojokerto.